Metropolitan

Cerita Dokter Mangku, Bahagia Tangani Pasien Miskin di Jakarta, Rela Dibayar Rp 10 Ribu

Sosok Dokter Mangku Sitepoe (84) tanpa pamrih menolong orang yang datang kepadanya. Ia tidak mau mematok harga kepada pasien yang datang kepadanya. Pria asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara itu sukarela menyembuhkan orang lain dari penyakit yang diderita.

Di tengah biaya pengobatan serta harga obat yang melangit, Dokter Mangku datang mengulurkan tangannya bagi warga miskin. Tanpa pamrih, ia menyembuhkan banyak penyakit yang diderita pasien. Kesadarannya membantu orang lain datang dari dalam diri Mangku sendiri.

Di Poliklinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan Cabang St Tarsisius, Kebayoran Lama, ia menerima banyak pasien dari kalangan pra sejahtera sejak pukul 12.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Sebenarnya, Mangku Sitepoe merupakan dokter hewan. Ia merupakan lulusan dari Fakultas Kedokteran Jurusan Kedokteran Hewan di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1963.

Setelah lulus, Mangku ditugaskan oleh Departemen Pertanian ke Kabupaten Langkat sebagai dokter hewan. Namun, saat itu, banyak warga setempat yang mendatangi tempat kerjanya untuk minta berobat. Padahal, Mangku bukanlah dokter umum.

"Mereka datang ke saya malah minta berobat. Kata mereka tidak apa apa, pak. Silahkan obati," ujarnya. Kendati demikian, Mangku tetap mengobati warga yang sakit. "Waktu itu hanya secara sukarela saja enggak dibayar. Warga sana sangat butuh diobati, karena di Langkat hanya ada satu dokter," terangnya.

Sebagai imbalan, tak jarang warga membalas budi Mangku dengan buah musiman seperti durian, kelapa, maupun beras. Dari sana, Mangku bekerja tak hanya sebagai Dokter hewan namun juga melayani masyarakat yang minta bantuan. Mangku juga pernah menjadi dokter hewan di Filipina maupun Denmark.

Pada tahun 1967, Mangku memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Sumatera Utara agar bisa meraih gelar Dokter umum. "Salah satu faktornya saya ingin jadi dokter umum karena cerita di Langkat itu. Setelah menjalani pendidikan, tahun 1978 saya disumpah sebagai Dokter," kenangnya. Namun, ia masih bekerja di departemen pertanian hingga pensiun di tahun 1992.

Meski sudah pensiun, ia menolak untuk menghabiskan masa tuanya dengan hidup tenang. Perjalanan hidup baru Mangku pun kembali dimulai. Bersama dengan ketiga temannya, salah satunya Farmakolog Idealis Prof Iwan Darmansjah, Mangku mulai bergerak untuk mengobati warga miskin.

Kala itu, ia bersama ketiga temannya menyelenggarakan pengobatan gratis dalam rangka HUT RI ke 50 di sebuah gereja. Antusias masyarakat pun tinggi, sebab pada tahun 1992, belum ada BPJS maupun asuransi kesehatan yang menanggung biaya warga miskin. "Tampaknya, orang tertarik sekali dengan pengobatan gratis," katanya.

Mengutip perkataan Prof Iwan Darmansjah, lanjut Mangku, setiap orang yang memiliki akal sehat memiliki Altruisme. Altruisme itu merupakan perhatian kepada kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Tahun 1995, mereka membangun poli klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan Cabang St Tarsisius di bilangan Barito, Jakarta Selatan.

Tujuannya, agar masyarakat benar benar mendapatkan manfaatnya ketimbang hanya sekali berobat saat ada acara tertentu. Kemudian di tahun 2003, Cabang poli klinik berbiaya sukarela ini dibangun lagi di Kebayoran Lama. Dari tahun 1992 hingga sekarang, Mangku mengaku hanya dibayar sukarela oleh pasien.

Bahkan, tak sedikit yang tak bayar. Namun, ia tak membeda bedakan para pasien itu. "Saya tidak beda bedain pasien. Semua sama. Saya tangani semua dengan benar benar. Satu orang bahkan bisa 15 menit," terangnya.

Mangku pun dibayar Rp 10 ribu per pasien yang datang kepadanya. "Per pasien hanya bayar Rp 10 ribu saja. Sudah termasuk obat obatannya ya," katanya. Setiap menuju poli klinik itu, Mangku pergi pulang menggunakan mikrolet.

"Saya berangkat naik mikrolet pulang juga sama. Sekarang sudah enggak bisa nyetir mobil sendiri lagi," ujarnya. Pria dengan tiga orang anak ini mendapatkan penghasilan utamanya dari uang pensiunan sewaktu di Departemen Pertanian dulu. "Saya hidup dengan uang pensiunan saya bukan dari klinik ini. Semasih saya hidup saya akan terus berusaha menyembuhkan orang,"

"Kalau mereka sembuh saya senang. Saya bangga sekali, ada kepuasan batin. Di situlah letak kebahagiaan saya," tandasnya.

Cari Rumput, Pria di Tanjung Priok Temukan Tulang Manusia Bekas Terbakar, 4 Saksi Diperiksa

Previous article

Spesifikasi dan Harga Samsung Galaxy Note 10, Smartphone Flagship Milik Samsung yang Baru Dirilis

Next article
Nurofia F
Sebelum menolong orang lain, saya harus dapat menolong diri sendiri. Sebelum menguatkan orang lain, saya harus bisa menguatkan diri sendiri dahulu.

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *